Track Test: mobil listrik Hyundai ternyata fun to drive!

Hal yang baik tentang menjadi seorang pesimis adalah bahwa saya selalu benar atau gembira karena takjub bahwa saya salah.

Untungnya yang kedua terjadi ketika PT Hyundai Motors Indonesia mengklaim jika mobil listriknya mempunyai handling layaknya sebuah sportscar. Klaim ini dilontarkan dalam sebuah pengantar sebelum Hyundai Track Day 2021 yang menampilkan Hyundai Kona dan Ioniq Electric untuk dicoba performanya di sirkuit Sentul.

Mobil listrik terkenal memiliki bobot yang berat karena baterainya, karena itu saya pun awalnya berpikir jika klaim di atas adalah sebuah overstatement. Hyundai Kona Electric dan Ioniq Electric keduanya tembus 1,5 ton untuk bobotnya.

Setelah briefing selesai oleh instruktur yang juga akan membawa mobil lead car, media pun dipersilahkan masuk ke salah satu dari sepuluh mobil Kona dan Ioniq Electric yang telah berbaris manis di depan pit building.

Saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba Hyundai Kona Electric terlebih dahulu, mobil yang saya gunakan ini merupakan versi facelift yang mempunyai tampilan baru yang lebih futuristik.

Setelah menggunakan balaclava dan helm saya pun siap untuk memulai sesi pertama dan sepuluh mobil test pun dilepas untuk masuk ke dalam sirkuit. Setelah mendapatkan jarak ketika keluar pit, saya pun langsung mencoba menekan gas lebih dalam untuk merasakan akselerasi mobil ini seperti apa.

Tentu saya penasaran, karena Kona Electric ini torsinya 395 Nm yang cukup besar dan mirip seperti sebuah sports car. Namun memang motor listriknya hanya menghasilkan tenaga 100 kW atau 132 tenaga kuda.

Figur yang jomplang ini pun akhirnya bisa terasa ketika dicoba di sirkuit, ketika pedal gas diinjak maka torsi maksimal pun bisa langsung terasa karena motor listrik tidak perlu membangun momentum seperti mesin bensin.

Tarikan mobilnya cukup terasa dan mobil melesat cukup cepat, namun sayangnya setelah itu 132 tenaga kuda tadi menampakkan wujudnya. Setelah awalnya melesat cepat, mobil langsung tidak memiliki tenaga. Wajar saja karena data akselerasi 0-100 km/h mobil ini adalah 9,9 detik.

Rasanya seperti menjadi siput di film Turbo yang berhasil menjadi cepat pada beberapa detik pertama, namun kembali menjadi menjadi siput normal yang pelan beberapa detik setelahnya.

Setelah mendekati akhir trek lurus Sentul dan melakukan pengereman untuk melibas tikungan pertama, yang ada dipikirkan saya adalah mobil ini akan terasa berat ketika berbelok dan akan understeer.

Namun di detik saya mulai membelokkan stir, semua dugaan saya tersebut tidak terbukti.

Mobilnya masih terasa ringan ketika membelok, mobilnya pun dengan sigap mengikuti arahan dari stir dan ketika berbelok mobilnya cukup flat atau rata. Sensasi yang sama seperti ketika membelokkan sebuah sports car ternyata memang benar adanya.

Jika saya adalah the Mask, maka rahang saya pun telah jatuh ke tanah setelah takjub dengan apa yang telah saya rasakan.

Sasis mobil terasa rigid atau kaku, handling mobilnya juga terasa netral dan dikombinasikan dengan stirnya yang sigap telah membuat saya percaya diri dalam melahap tikungan-tikungan di Sentul.

Namun memang saya harus ingat bahwa mobil ini memiliki bobot yang cukup berat untuk ukurannya dan memiliki penggerak roda depan yang cenderung memiliki karakter understeer.

Betul saja, satu kali saya terlalu cepat ketika akan keluar tikungan dan tidak melihat ada cone di sirkuit karena terhalang tembok pembatas. Akhirnya terjadilah understeer di mobilnya, input stir untuk menghindari cone tidak banyak membantu dan mobil masih melebar ke arah yang lain.

Untungnya rem yang dimiliki mobil cukup mumpuni dan saya mampu mengurangi kecepatan untuk menghindari menabrak cone tersebut. Hyundai telah membuat sistem pengereman yang baik, karena walaupun bobot mobil ini berlebih semua bisa terkendali dalam situasi darurat seperti ini.

Sepertinya saya terlalu menikmati dan percaya diri dengan kemampuan handling mobilnya. Karena memang sensasinya berbeda, dengan tidak adanya suara mesin maka kita tidak terlalu peka terhadap kecepatan yang sudah kita capai.

Setelah itu pun saya kembali menikmati membuat mobil ini menikung di belokan demi belokan, saya pun hampir lupa jika ini adalah sebuah SUV kompak.

Sepertinya bobot yang berat itu menjadi faktor yang paling berpengaruh untuk handling mobilnya. Karena bobot paling berat ada di baterai mobil yang terletak di tengah mobil dan berada di lantai.

Ini membuat pusat beban atau pembagian beban menjadi seimbang yang tentunya membuat handling mobil menjadi lebih netral dan baik.

Terjawablah mengapa mobil listrik bisa memiliki performa handling yang cukup bagus, komponen yang diduga menjadi hambatan karena bobotnya ternyata menjadi sebuah modal utama untuk sebuah performa apik.

Mobilnya tidak kencang memang, namun dengan motor listrik ketika Anda menekan gas di momen untuk berakselerasi keluar tikungan maka tenaga maksimal pun langsung tersedia dan perasaan memiliki kemampuan tersebut cukup menyenangkan.

Satu mitos bahwa mobil listrik membosankan untuk dikendarai telah terjawab kebenarannya, ternyata mobil listrik bisa menyenangkan untuk dikendarai khususnya ketika menikung. Jadi dalam kesehariannya pemilik mobil listrik Hyundai bisa tetap menikmati sensasi berkendara yang sangat baik dan menikmati tiap belokan yang dilalui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: